Khairul Mujahid/DetikSulteng.com

Sulawesi Tengah, menjadi semakin penting di Indonesia, setelah dua lapangan baru gas alam cair (LNG) milik PT. Pertamina EP di Kabupaten Banggai mulai beroperasi pada September 2016 lalu.

General Manager PT Pertamina EP Asset 4 Cepu (PEPC) Didik Susilo,menjelaskan, kedua ladang baru LNG itu adalah Lapangan Donggi yang berkapasitas 50 juta kaki kubik perhari (mmscfd) dan Lapangan Matidok berkapasitas 55 mmscfd.

Menurut Didik Susilo, lapangan LNG Donggi sudah beroperasi sejak September 2016, namun belum mencapai kapasitas penuh. Sedangkan Lapangan Matindok saat ini masih dalam tahap uji produksi secara persial (test package) dan diharapkan akan beroperasi secara utuh mulai April 2017.

“Pekerjaan konstruksi kilang LNG di Donggi dan Matindok ini dikerjakan oleh konsorsium PT. Wijaya Karya dan PT. Teknik Indonesia disingkat KWT,” katanya.

Sebelum kedua lapangan LNG ini beroperasi, Sulteng sudah memiliki lapangan LNG di Senoro, Kabupaten Banggai, yang kini sudah beroperasi penuh dengan kapasitas sekitar 310 mmscfd milik PT. Donggi Senoro LNG (DSLNG).

Didik Susilo yang didampingi Field Manager Donggi-Matindok, Munir menjelaskan, sesuai dengan perjanjian jual beli gas, sebanyak 25 mmscfd dari ladang Donggi dan Matindok akan disalurkan kepada PT. PLN untuk memenuhi kebutuhan gas bagi pembangkit listrik, 55 mmscfd ke PT. Panca Amara Utama dan 30 mmscfd ke PT. DSLNG.

“Pemasaran seluruh produk LNG Donggi dan Matindok ini nantinya akan dilakukan melalu perusahaan Joint Operation Body (JOB) Pertamina-Medco E&P Tomori yang juga berkantor pusat di Banggai,” katanya.

Mengenai investasi pembangunan kedua kilang LNG di Donggi dan Matindok, Didik Susilo belum dapat merincinya, karena proses pembangunan masih berjalan (on progress).

Juru bicara PEPC, Yuliani dalam pertemuan silaturahmi dengan jurnalis di Kota Palu, Rabu malam, menyebutkan bahwa lapangan LNG Donggi dan Matindok terdiri atas lima cluster yang di dalamnya terdapat 9 sumur.

“Seluruh proses pembangunan kilang ini tidak melibatkan satu orang pun tenaga kerja asing, tetapi melibatkan sebagian besar tenaga kerja lokal,” ujarnya.

PEPC juga sudah merekrut 60 orang warga sekitar proyek lulusan SMU untuk dididik dan dilatih selama setahun di Kantor Pusat PEPC di Cepu dan kini telah kembali ke Banggai dan menjadi pekerja yang mengoperasikan kedua kilang LNG tersebut.

Perusahaan, kata Yuliani, juga menyalurkan berbagai bantuan kepada warga sekitar sebagai bentuk kepedulian sosial, namun mulai 2017 akan menyalurkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang kegiatannya akan diselaraskan dengan program Pemerintah Kabupaten Banggai.***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here