Kakao masih menjadi primadona Sulawesi Tengah, bahkan terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Produksi kakao setiap tahunnya di daerah ini, sekitar 250 ribu ton. (Foto: Istimewa)

Lovely Nukila/DetikSulteng.com

Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, menyatakan daerahnya sebagai penghasil komoditas kakao terbesar di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

“Produksi kakao setiap tahunnya di daerah ini, sekitar 250 ribu ton,” kata Gubernur Longki.

Menurutnya, kakao merupakan komoditas unggulan petani di seluruh kabupaten di provinsi itu.

Produksi kakao petani Sulawesi Tengah selama ini sudah banyak diekspor ke berbagai negara di kawasan Asia, Amerika maupun Eropa dengan menghasilkan devisa cukup besar bagi negara.

Sebagai komoditi primadona, pemerintah daerah terus mendorong para petani untuk mengembangkan tanaman perkebunan tersebut, mengingat kebutuhan pasar setiap tahunnya semakin meningkat.

Sementara Sekretaris DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulawesi Tengah, Achrul Udaya membenarkan ekspor perdana biji kakao langsung dari Pelabuhan Pantoloan Palu menuju negara konsumen dilakukan pada 1994.

Ekspor perdana biji kakao petani Sulawesi Tengah tersebut dilepas langsung oleh Gubernur ketika itu dijabat Azis Lamadjido.

Selama beberapa tahun, komoditas kakao tercatat sebagai produk ekspor non-migas penghasil devisa terbesar di Provinsi Sulawesi Tengah.

Namun, kata dia, kurun beberapa tahun terakhir ini, volume maupun perolehan devisa dari ekspor kakao mengalami penurunan akibat produksi petani terus berkurang.

Petani kakao di Sulteng pernah mencapai puncak kejayaan ketika harga kakao di pasaran lokal maupun internasional bergerak naik pada saat krisis moneter terjadi era 1998.

Saat itu, harga biji kakao di pasaran Kota Palu naik mencapai Rp30 ribu/kg.

Banyak petani yang memiliki lahan kakao cukup luas tiba-tiba ekonominya meningkat sehingga bisa membeli kendaraan mobil dan naik haji.

“Saya kebetulan waktu itu masih menjabat Kepala Cabang PT Sucofindo dan saya tahu persis bagaimana Sulteng melakukan ekspor perdana komoditi kakao langsung dari Pelabuhan Pantoloan Palu,” kata dia.

Selama itu, kata Achrul, hasil panen petani hanya diantarpulaukan ke Surabaya. Dari sana baru komoditi tersebut diekspor ke berbagai negara konsumen.

Harga biji kakao di pasaran Kota Palu saat ini berkisar Rp26.000/kg. Di tingkat petani bervariasi antara Rp22.000 s/d Rp24.000/kg.

Data Dinas Perkebunan Provinsi Sulteng menyebutkan luas lahan kakao di daerah ini sekitar 291.000 hektare tersebar di 13 kabupaten dan kota.

Sementara itu, produksi biji kakao secara nasional tahun 2017, diperkirakan mencapai 375 ribu ton. Namun itu dapat terealisasi apabila cuaca sepanjang tahun ini normal.

Produksi kakao terus menurun dari tahun 2009 hingga tahun 2015. Meskipun, pernah mengalami puncak produksi pada tahun 2016 mencapai 650 ribu ton. Produksi biji kakao tiap tahun terus menurun, di satu sisi kebutuhan terus meningkat 3% – 4% setiap tahun.

Berdasasarkan data Askindo, produksi kakao secara nasional tahun 2009 produksi biji kakao mencapai 542.075 ton, tahun 2010 turun menjadi 557.596 ton, tahun 2011 anjlok 460.809 ton, tahun 2012 sebesar 452.606 ton, 2013 sebanyak 444.035 ton, tahun 2014 368.925 dan tahun 2015 naik sedikit menjadi 377.000 ton dan tahun 2016 hanya mencapai 350.000 ton. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here