Salah seroang wisatawan asal Amerika, Edward, sedang bersiap-siap snorkeling di Tanjung Karang, Donggala. Dia berjanji akan kembali lagi bersama keluarganya untuk waktu yang lama. (Foto: Ochan)

Ajid Sangadji/DetikSulteng.com

Kabupaten Donggala di Provinsi Sulawesi Tengah, adalah satu-satunya daerah di provinsi ini yang memiliki obyek wisata terbanyak, dan tersebar di 13 kecamatan dari 16 kecamatan di kabupaten itu.

Bupati Donggala, Kasman Lassa kepada DetikSulteng.com, Minggu (1/10) siang mengatakan, semua obyek wisata itu sangat potensial untuk dikembangkan dan dapat menjadi unggulan.

Kasman Lassa menjelaskan, Kabupaten Donggala memiliki potensi wisata bahari di dalamnya termasuk laut dan mangrove, wisata alam meliputi hutan, gunung dan gua serta danau, wisata pertanian dan perkebunan.

“Yang menarik dari semua obyek wisata itu, bukan buatan tapi alami,”  ujarnya.

 

Wisatawan lokal sedang menikmati keindahan Pantai Tanjung Karang, di Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala (foto: Ochan)

Menurut dia, antara lain wisata bahari yang di dalamnya wisata laut, ialah Tanjung Karang, Pantai Kaluku, Pusentasi (pusat laut), Pantai Labuana, Hutan Mangrove dan banyak lagi yang lain.

Kabupaten Donggala juga memiliki Danau Talaga di wilayah Pantai Barat. Danau itu memiliki keunikan tersendiri yaitu, danau yang hampir menyatu dan laut.

“Agak susah membedakan antara Danau Talaga dan Laut. Ini seperti menyatu, itulah keunikannya serta keindahannya yang di kelilingi gunung,” jelas Bupati Kasman.Selain itu, di Donggala juga terdapat Danau Rano di Kecamatan Balaesang Tanjung. Danau ini berada di ketinggian kurang lebih 1.000 MDPL.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa potensi yang ada tersebut mendorong Pemkab Donggala menggagas dan mencanangkan Donggala Kota Wisata.

Pemkab Donggala, kata Kasman Lassa saat ini tengah memprioritaskan pembangunan sarana dan prasarana wisata di wilayahnya. Juga tengah membenahi obyek-obyek wisata, kebersihan dan keindahan kota, sarana akomodasi, transportasi, restoran/warung makan, tempat hiburan, kelompok seni dan budaya, produk-produk ekonomi kreatif serta penyediaan tenaga-tenaga terampil di sektor kepariwisataan.

“Itu kami lakukan, karena target kami hendak menjadikan Kabupaten Donggala sebagai daerah tujuan utama parwisata di Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Berniy, salah seorang investor di Kawasan Ekonomi Khusus Palu, sedang persiapan snorkeling di Pantai Tanjung Karang, di Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala. (foto: Ochan)

Bupati Kasman Lassa bahkan mengatakan, untuk kepentingan itu, pihaknya belajar tentang pengembangan pariwisata di Bali beberapa lalu. Hasil yang didapatkan dari Bali itu, telah dibahas oleh instansi terkait, yang kemudian menjadi salah satu program pengembangan pariwisata dan budaya di Kabupaten Donggala.

Meski begitu, dari semua obyek wisata di Donggala itu, baru Prince John Resort & Diving di Tanjung Karang yang dikelola secara profesional oleh warga Palu keturunan Jerman.

Saat DetikSulteng.com menyambangi Prince John Resort & Diving, tercatat sekitar 30 orang dari Jerman dan Belanda yang sedang berlibur di tempat tersebut.

Para wisatawan asal Eropa memilih Prince John, karena menawarkan beberapa spot diving yang menarik, antara lain karang besar seukuran meja makan, karang mirip rotan yang disebut rotan laut, dan beberapa spot diving menarik lainnya.

Salah seorang investor di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, Kim Sung Hyun, bahkan memilih menggelar rapat di kawasan wisata tersebut.

“Lokasi ini sangat menarik, semuanya alami. Nyaman dan menyenangkan,” katanya.Dia bahkan sedang mencari lokasi wisata lain di daerah tersebut untuk dikembangkan secara profesional.

Jamil Syah, pemilik salah satu obyek wisata Pantai Labuana, mengatakan sedang mencari investor untuk mengelola kawasan tersebut secara profesional.

“Labuana itu pasir putih dengan hamparan yang luas dan panjang, juga karang yang indah,” ujarnya.

Wisatawan lokal sedang berwisata di Pantai Tanjung Karang, Kabupaten Donggala. (Foto: Ochan)

Jika hendak ke Kabupaten Donggala, dari Jakarta kita menggunakan pesawat terbang dari Bandara Soekarno Hatta dengan berbagai maskapai seperti Garuda, Batik Air, Lion Air dan Sriwijaya Air dengan tujuan Bandara Mutiara SIS Aljufri di Kota Palu.

Penerbangan itu bisa dengan cara langsung dan bisa pula transit di Makassar dan Balikpapan dengan rata-rata penerbangan selama dua jam. Setiba di Palu, tamu menggunakan mobil ke Donggala dengan lama perjalanan sekitar 45 menit ke arah barat. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here