Sulawesi Tengah memiliki sedikitnya 1.451 buah arca dari situs megalith sejak zaman batu. Lokasinya tersebar di hampir seluruh wilayah ini. Tapi, yang paling banyak berada di Lembah Napu, Lembah Bada dan Lembah Besoa di Kabupaten Poso, dan di Desa Oloboju dan Kulawi di Kabupaten Sigi. Itulah sebabmya, dari hasil penelitian pihak Museum setempat tahun 2016, Sulawesi Tengah ini adalah situs megalitikum terluas di Indonesia. Ini adalah replika Patung Tadulako di halaman Museum Sulawesi Tengah. (Foto: OChan)

Khairul Mujahid/DetikSulteng.com

Sulawesi Tengah memiliki sedikitnya 1.451 buah arca dari situs megalith sejak zaman batu. Lokasinya tersebar di hampir seluruh wilayah ini. Tapi, yang paling banyak berada di Lembah Napu, Lembah Bada dan Lembah Besoa di Kabupaten Poso, dan di Desa Oloboju dan Kulawi di Kabupaten Sigi. Itulah sebabmya, dari hasil penelitian pihak Museum setempat tahun 2016,  Sulawesi Tengah ini adalah wilayah dengan situs megalitikum terluas di Indonesia.

“Di dunia, arca megalith yang berupa arca, menhir atau dolmen ini, hanya ada di Napu, Besoa, Bada Kabupaten Poso, Oloboju dan Kulawi di Kabupaten Sigi, serta di Marquies Island, Amerika Latin,” kata Sekretaris Museum Provinsi Sulawesi Tengah, Iksam Djorimi, Selasa (31/10).

Menurut dia, saat ini terdapat 432 objek situs megalith di Sulawesi Tengah, tersebar di Kecamatan Lore Utara sebanyak 349 situs, di Lore Selatan sebanyak 55 situs dan di Kecamatan Kulawi Kabupaten Donggala sebanyak 27 situs.

Tapi pihak Museum Sulawesi Tengah menyebutkan, situs megalith itu tidak hanya ada di tiga wilayah itu, tapi juga tersebar di Doda, Kecamatan Lore Tengah, di Desa Tulo, Kecamatan Dolo Kabupaten Donggala, Desa Watunonju, Kecamatan Sigi Biromaru, Kecamatan Pipikiro, dan Desa Bangga di Kabupaten Sigi.

Iksam mengatakan, pihaknya hanya memberi nama terhadap patung-patung megalith ini. Salah satu patung megalith yang berdiri sendiri misalnya, dinamai Tadulako yang berarti pemimpin. Tingginya sekitar 170 centimeter. Patung itu berukiran orang.

“Mungkin saja pembuatnya hendak menggambarkan bahwa begitulah pemimpin di masa zaman pra sejarah itu,” ujarnya.

Untuk menuju patung Tadulako itu, kita harus berjalan kaki dari jalan utama sekitar dua kilometer dengan melewati persawahan. Sekitar 30 meter dari patung Tadulako ditemukan lagi beberapa situs megalith lain yang diberi nama Kalamba atau perahu (batu yang tengahnya bolong). Tidak hanya di situ, sekitar lima kilometer dari kalamba, masih banyak ditemukan situs megalith serupa.

Situs ini disebut juga dengan menhir, yakni bangunan yang berupa tugu batu yang didirikan untuk upacara menghormati roh nenek moyang, sehingga bentuk menhir ada yang berdiri tunggal dan ada yang berkelompok serta ada pula yang dibuat bersama bangunan lain, yaitu seperti punden berundak-undak.

Menurut dia, saat ini, terdapat 60 ribu artefak asal Sulawesi termasuk Sulawesi Tengah yang disimpan di Museum Leiden Belanda. Sedangkan di Museum Sulawesi Tengah sendiri hanya menyimpan sekitar 10 ribu artefak.

Berasal dari Cina

Alimuddin Pa’ada, pendiri Yayasan Katopasa yang pernah bersama-sama The Nature Concervancy (TNC) melakukan penelitian tentang patung megalith itu, mengatakan   bahwa nenek moyang orang Indonesia berasal dari daratan Cina Selatan yang bermigrasi dengan perahu ke arah selatan ribuan tahun silam. Gelombang migrasi ini masuk pula ke Sulawesi dan mereka menetap di pulau ini hingga ke Sulawesi Tengah.

Para pengembara ini masuk dalam rumpun ras austronesia yang menyebar dari Madagaskar sampai Pasifik. Pada saat itu, gelombang kedua orang austronesia datang ke Sulawesi dengan membawa kebudayaan zaman besi. Dengan alat-alat dari besi ini mereka bisa membuat berbagai model peninggalan dari batu atau dikenal dengan Megalith.

Dalam catatan J. Kruytt—sejarawan Belanda yang menulis tentang Sulawesi Tengah, sebelum kedatangan Belanda tahun 1908 di Lore, Kabupaten Poso, masih berlaku kebiasaan orang membuat kubur dari batu. Dan masih ada tempat pembuatan kalamba untuk penguburan. Jadi prasati batu ini tidak hanya dari masa prasejarah saja, namun ada yang berasal dari masa yang dekat ratusan tahun saja atau megalith muda.

“Kadang orang melihat semua peninggalan batu ini berasal dari masa ribuan tahun yang lalu saja. Padahal ada juga di masa Belanda masih menjajah Indonesia,” katanya.

Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah pernah dihebohkan dengan adanya pencurian patung-patung megalith di Poso.Ada sekitar 100 patung yang dicuri dan dijual ke sejumlah galery barang antik di Bali.

Untung saja, pihak DPRD Kabupaten Poso ketika itu mengirim dua orang anggotanya untuk mengecek kebenaran informasi itu di Denpasar. Dan setelah dicek, ternyata informasi itu benar adanya.

Pihak DPRD Poso menemukan ada patung megaltih yang bernama Batu Nongko asal Lore Utara, dijual dengan harga Rp5 miliar kepada pembeli asal Amerika. Sedangkan 20 situs lainnya yang sudah laku terjual, masih dipajang sambil menunggu proses pengiriman kepada pembelinya ketika itu.

“Akhirnya patung-patung megalith diambil kembali dan dikembalikan ke tempatnya semula,” kata Alimuddin Pa’ada yang kini sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah itu.

Untuk memelihara situs-situs megalith itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah pernah mendapat bantuan dana hibah sebesar lebih Rp700 juta dari Pemerintah Amerika Serikat.  Bantuan itu disalurkan melalui USAID dan diperuntukkan pada tiga program, yakni pelestarian, pelatihan masyarakat, dan pengawasan situs megalith. ***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here