Tim KFC Jakarta mendominasi juara di dua etape Tour de Central Celebes. ***

Lovely Nukila/DetikSulteng.com

“Anda lihat saja selama penyelenggaraan Tour de Central Celebes (TDCC) di Poso. Masyarakat daerah ini sangat antusias menyambut dan menyaksikan tamu-tamu, tanpa ada gangguan. Mereka merasa aman. Tak ada hal-hal yang perlu ditakutkan lagi untuk datang ke Poso,” kata Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, Selasa (7/11) pagi di Poso.

Pernyataan Gubernur itu menjawab pertanyaan wartawan mengenai kondisi keamanan Poso, terkait dengan kehadiran peserta balap sepeda wisata internasional, yang diikuti oleh peserta dari 18 negara, antara lain Kanada, Belanda, Singapura, Malaysia, Korea, Belanda, Kuwait, Sri Lanka, Vietnam, Filipina, Thailand, Brunei, Perancis dan Indonesia serta beberapa Negara lainnya.

Selasa pagi, para pebalap itu dilepas oleh Gubernur Longki Djanggola untuk menuju etape II di Kabupaten Parigi Moutong sejauh 192 kilometer.

Menurut Gubernur Longki, salah satu tujuan menyelenggaraan lomba balap sepeda wisata internasional atau TDCC ini sebagai kampanye kepada masyarakat dunia, bahwa Poso yang selama ini diidentikkan sebagai daerah konflik, wilayah yang rawan aksi terorisme, ternyata aman, tentram dan indah untuk dikunjungi semua orang.

“Kota ini saya istilahkan sebagai nirwana di Bumi Katulistiwa,” ujar Gubernur Longki.

Para terduga teroris yang dikenal dengan sisa-sisa anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT), hanya berada di tempat tertentu di dalam hutan yang jauh dari Kota Poso. Aparat TNI dan Polri yang tergabung dalam Pasukan Operasi Tinombala, masih terus mengejar para pengacau MIT itu.

Bahkan, operasi yang melibatkan ribuan pasukan itu, tidak pernah berhenti mengejar para terduga MIT itu. Mereka itu, tambahnya, bahkan sudah sangat tidak berdaya dan tinggal menunggu waktu untuk menyerahkan diri.

“Jadi tidak usah khawatir ke Poso. Daerah ini aman untuk siapa saja yang datang untuk kegiatan positif,” tegas Gubernur Longki Djanggola.

Kabupaten Poso memang menjadi salah satu daerah yang dilintasi rute TDCC 2017 dari Kota Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una ke Palu dengan total panjang lintasan 486,9 kilometer.

Garis finish etape I berada di Anjungan Festival Danau Tektonik Poso di Kota Tentena, sebuah kota wisata di Tepian Danau Poso, sekitar 56 kilometer selatan Kota Poso, Senin sore.

Di garis finish ini, sedikitnya 5 ribu warga tumpah ruah sejak pukul 10.00 waktu setempat untuk menyambut para pebalap yang menyentuh garis finish pada pukul 03.15 sore.

Di lokasi ini, gubernur menyatakan kagum dengan sambutan terhadap para pebalap yang ditandai dengan pengalungan bunga sesaat setelah berhenti usai mencapai finish, disertai tari-tarian tradisional, diiringi lantunan musik bamboo. Yang diakhiri dengan jamuan makan yang terdiri atas menu-menu tradisional Poso.

Menurut dia, ini memberi kesan kepada puluhan pebalap asing yang datang dari 18 negara di Asia dan Eropa, dan kesan yang baik ini, akan digaungkan di daerah mereka.

“Dan citra ini tentu memberi dampak yang sangat positif bagi Poso, dan Sulteng pada umumnya,” ujar Longki.

Gubernur berharap, dampak TDCC Poso akan semakin berkembang menjadi daerah tujuan wisata unggulan nasional, karena daerah ini memiliki potensi yang sangat besar.

Commisaire Internasional dari Union Cyclist Internasionale (UCI), Martyn Bruinn, di hadapan ribuan warga yang tumpah di lapangan Kasintuwu Poso untuk menyaksikan pelepasan pebalap, mengaku sangat kagum dengan Poso, baik alamnya yang indah maupun keramahtamahan warganya.

Dia bahkan mengaku tidak melihat Poso sebagai daerah bekas konflik, atau daerah teroris yang selama ini dia ketahui dari media. Memang, awalnya dia mengaku khawatir jika para pebalap melintasi dan finish etape I di Poso, karena informasi itu. Tetapi setelah disaksikan sendiri, ternyata jauh dari kesan “horor” itu.

“Saya berharap, tahun depan saya bersama tim yang lebih banyak akan datang lagi ke Poso untuk TDCC yang kedua,” kata pria bertinggi badan sekitar 190 centimeter ini.

Karena kekagumannya itu, dia pun tak henti-hentinya memuji kondisi Poso. Yang akhirnya warga pun berebutan ingin berfoto bersamanya.

Wisnu Pratama, salah seorang warga Poso mengatakan, kesan horor Kota Poso ini, hanya karena isu-isu di media sosial yang begitu kencang. Akibatnya, publik pun enggan datang ke Poso yang sebelumnya menjadi daerah pertama sebagai tujuan weekend warga Sulawesi Tengah.

“Kita di sini aman-aman saja,” katanya.

Kapolres Poso, Ajun Komisaris Besar Polisi Bogieq Sugiyarto  menjelaskan, pihaknya menerjunkan sekitar 800 personel aparat gabungan TNI dan Polri  untuk pengamanan pelaksanaan TDCC etape I AMpana-Poso. Aparat gabungan itu dikerahkan  secara maksimal untuk mengawal mulai masa persiapan hingga pelaksanaan lomba TDCC selesai.

“Hingga hari ini, pasukan sudah kami terjunkan untuk mengisi pos-pos masing-masing yang sudah ditentukan. Jumlah keseluruhan mencapai 800 personel,” jelas Kapolres.

Bogieq menambahkan, ratusan personel tersebut bekerja untuk memastikan rute pelintasan peserta TDCC betul-betul steril. Seluruh jalur pelintasan akan ditutup selama beberapa jam sambil menunggu peserta TDCC melintas.

Kapolda Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Polisi Rudy Sufahriadi mengatakan,  operasi pengejaran sisa DPO teroris di Poso, akan berakhir pada  29 Desember 2017 nanti. Perpanjangan operasi itu atas permintaannya, karena hingga kini masih ada sekitar tujuh orang lagi sisa anggota MIT yang berada di hutan-hutan Poso.  ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here