Rival Himran

Lovely Nukila/DetikSulteng.com

Tana to Kaili, tana ntovea, tanaku rivivintasi, toraku ranga, tanaku reme bula, toraku ranga, tana to Kaili, nemo ragero, rapobalu miu, riumba raramu….

(tanahku Kaili—etnis asli Sulawesi Tengah– tanahku sayang, tanahku di dekat pantai, kan ku ingat selalu, tanah disinari terangnya bulan, kan ku ingat selalu, tanahku Kaili, jangan kau rusaki, jangan kau jual, di mana hatimu?

Itu merupakan penggalan lirik lagu berjudul Riumba Raramu (dimana hatimu) karya Rival Himran atau yang dikenal Pallo. Penyanyi reggae itu memprotes terjadinya deforestasi yang tidak terkendali di Kota Palu dan Donggala.

“Saya juga memprotes adanya aksi pencurian situs megalith di lembah Besoa, Poso,” kata Pallo.

Situs-situs megalith itu berlokasi di sejumlah tempat di Sulawesi Tengah, khususnya di Kabupaten Sigi dan Poso. Situs megalith itu merupakan bukti peninggalan zaman pra sejarah. Di dua kawasan  ini, banyak sekali ditemukan patung megalith yang berdasarkan hasil penelitian, usianya diperkirakan lebih 2000 tahun.

Patung-patung megalith ini, awalnya ditemukan oleh misionaris pertama di Sulawesi Tengah  asal Belanda bernama A.C Kruyt. Sayangnya, patung megalith yang telah menjadi salah satu tempat kunjungan wisata itu, terkesan terbiar begitu saja.

Padahal, sejauh mata memandang, terlihat begitu banyak patung yang tertata rapi, seakan mau mengatakan bahwa nenek moyang bangsa kita memiliki kemampuan arsitek yang sulit ditemukan tandingannya di zaman sekarang.

Salah satu lokasi penyebaran patung-patung megalith itu terletak di Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Jaraknya sekitar 200-an kilometer ke arah selatan Kota Palu. Daerahnya sangat dingin, suhunya berkisar antara 10 derajat celcius sampai 14 celcius.

“Saya prihatin, makanya saya menjadikan lokasi itu untuk pengambilan gambar video klip  lagu Riumba Raramu,” kata vokalis dan basis Project Duo Pallo ini.

Pihak Museum Provinsi Sulawesi Tengah telah memberi nama sejumlah patung megalith di kampung ini. Salah satu patung megalith yang berdiri sendiri misalnya, dinamai Tadulako yang berarti pemimpin. Tingginya sekitar 170 centimeter. Patung itu berukiran orang. Mungkin saja pembuatnya hendak menggambarkan bahwa begitulah pemimpin di masa zaman pra sejarah itu.

Untuk menuju patung Tadulako itu, kita harus berjalan kaki dari jalan utama sekitar dua kilometer dengan melewati persawahan. Sekitar 30 meter dari patung Tadulako, ditemukan lagi beberapa situs megalith lain yang diberi nama Kalamba atau perahu, batu yang tengahnya bolong. Tidak hanya di situ, sekitar 5 kilometer dari situ, masih banyak ditemukan situs-situs megalith serupa.

Situs ini disebut juga dengan menhir, yakni bangunan yang berupa tugu batu yang didirikan untuk upacara menghormati roh nenek moyang, sehingga bentuk menhir ada yang berdiri tunggal dan ada yang berkelompok serta ada pula yang dibuat bersama bangunan lain yaitu seperti punden berundak-undak.

Iskam Djorimi, petugas Museum Sulawesi Tengah, mengatakan patung Tadulako dan kalamba disebut sebagai situs pemujaan atai dolmen (kuburan). “Situs ini mengartikan bahwa status sosial masyarakat yang dikuburkan di sini sangat tinggi. Yah, kayak raja-raja pada masa itu,” kata Iskam Djorimi.

Menurut Iskam Djorimi, untuk membuktikan kalau di situs ini adalah dolmen, pada Mei 2007 lalu, pihaknya melakukan penggalian dan ditemukan tulang belulang, kerangka manusia. Juga ditemukan peralatan rumah tangga,  gelas perak, kalung perak dan pedang.

Tidak hanya itu, pernah waktu penggalian dengan kedalaman 200 meter dekat situs itu, ditemukan serbuk sari. Menurut Iskam Djorimi, diduga pada lebih 2000 tahun lalu itu, kawasan itu sudah pernah diokupasi. Penggalian pertama kali dilakukan tahun 1903. Saat itu banyak sekali ditemukan emas.

“Semua emas hasil galian di sekitar situs itu, kini disimpan di Museum Leiden Belanda,” kata Iskam Djorimi.

Menurutnya, di Museum Leiden Belanda itu, terdapat sekitar 60 ribu artefak Sulawesi, termasuk dari Sulawesi Tengah. Sedangkan di Museum Sulawesi Tengah sendiri hanya menyimpan sekitar 10 ribu artefak.

Bukan hanya di Doda, Kecamatan Lore Tengah, Poso saja yang ada situs-situs tersebut. Situs menhir itu tersebar di beberapa wilayah seperti di Desa Tulo, Kulawi, Pipikiro dan Bangga di Kabupaten Sigi. Juga di Bada, Pendolo, Lore Selatan dan Lore Utara di Kabupaten Poso.

Sayangnya, situs tua yang sarat akan makna sejarah itu, terkesan terbiar begitu saja. Tidak ada pemeliharaan yang baik. Akibat tidak terpelihara itu,  sempat ada beberapa oknum yang mengatasnamakan keluarga pejabat di Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah hendak mencurinya dengan alasan akan dibawa ke Palu untuk dipelihara.

Pallo yang juga mantan anggota group musik reggae Steven & Coconut Treez itu mengatakan, tidak bisa membiarkan kawasan itu seakan tak bertuan. Dia berencana   menggelar Reggae Megalith Festival di lokasi itu. Dia akan mengupayakan mendatangkan sejumlah orang untuk datang ke lokasi itu, selain untuk berwisata, juga untuk menghadiri festival itu.

“Kita harus promosikan ke luar. Ah… indah daerah ini,” katanya mengagumi.***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here