Prof. Dr. H. Saggaf Pettalongi, M.Pd (tengah) saat dilantik menjadi Rektor IAIN Palu, Masa Bhakti 2017-2021

Lovely Nukila/DetikSulteng.com

Pria dengan tubuh yang jangkung itu tak banyak bicara. Tetapi, pikiran-pikirannya cerdas jika dimintai tanggapan tentang dunia pendidikan. Adalah Prof. Dr. H. Saggaf Pettalongi, M.Pd. Pria kelahiran Batui, 1 Mei 1967 itu adalah alumni IAIN Ternate. Tapak kakinya membekas di Ternate, karena harus mengikuti kakak kandungnya, Prof. Dr. KH. M. Noor Sulaeman, yang ditugaskan Habib Idrus bin Salim Aljufri (Ustadz Tua) untuk mengajar dan mengembangkan Alkhairaat di Maluku Utara.

Saggaf Petalongi muda saat itu akhirnya kuliah di Jurusan Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah, IAIN Ternate, kemudian menjadi dosen tetap di kampus itu. Seiring perjalanan waktu, Saggaf muda pindah ke Palu.

Sekilas perjalanannya ke Palu sekitar tahun 1990, Saggaf pernah baulaco di Pateten, Bitung. Baulaco  adalah istilah orang Ternate yang berarti lapar di tengah banyaknya makanan. “Ruslan, kita dua baulaco ini,” kata Saggaf muda ketika itu. Ruslan, adalah putra asal Ternate, yang ketika itu hendak sekolah di Alkhairaat Palu, yang oleh orang tuanya, dikirim ke Palu dan titip melalui Saggaf Pettalongi.

Ia mengatakan baulaco,  karena saat hendak ke Palu, hanya  menumpang kapal KM Umsini dan transit di Bitung. Sambil menunggu transportasi ke Palu, ia menginap bersama di rumah kerabat Ruslan, di Pateten, Bitung. Sampai akhirnya, Saggaf tiba di Palu. Ia akhirnya mengajar di STAIN Datokaram Palu ketika itu. Menjadi dosen, haruslah menyandang gelar doktor. Saggaf yang memang berasal dari keluarga pendidik, akhirnya melanjutkan ke jenjang doktor.

Di STAIN Datokarama Palu yang kemudian bermetamorfosis menjadi IAIN Palu, Saggaf Pettalongi berkarier, sampai akhirnya mendapat gelar tertinggi di dunia akademis, Profesor. Perlahan tapi pasti, jabatan demi jabatan di institusi pendidikan Islam di Palu itu pun diraihnya.

Gong suksesi Rektor IAIN Palu ditabuh. Lima kandidat bersaing untuk menjadi Rektor IAIN, Masa Bhakti 2017-2021. Mereka adalah  Dr. Lukman S Thahir, Prof. Dr. H. Zainal Abidin M.Ag, Prof. Dr. Saggaf S. Pettalongi M.Pd, Dr Adam dan Dr Nasaruddin.

Nama para calon Rektor IAIN ini harus dikirim ke Jakarta, untuk mendapat persetujuan dan penetapan Menteri Agama. Dari lima nama itu, Prof. Dr. H. Saggaf Pettalongi yang mendapat kepercayaan dan amanah untuk memimpin IAIN Palu. Ia dilantik pada Jumat, 22 Desember 2017 menggantikan Prof. Dr. H. Zainal Abidin M.Ag. Menurut rencana, Rabu 27 Desember 2017 proses serah terima jabatan dilakukan.

Saggaf Pettalongi adalah pakar pendidikan. Lantaran itu, dia banyak menyoroti tentang pendidikan dan tentunya guru sebagai pendidik.

Menurutnya, era reformasi dan keterbukaan dewasa ini membawa konsekuensi hampir di semua aspek kehidupan, tidak terkecuali di bidang pendidikan. Pengembangan pendidikan yang dulu menggunakan pendekatan sentralisasi dan top down, pada era reformasi diubah ke pendekatan desentralisasi dan botton up. Sejalan dengan itu, munculah konsep School Based Management (MBS) dan Community Based Education (PBM) dalam penyelenggaraan pendidikan.

Perubahan paradigma ini,kata Saggaf Pettalongi, membawa konsekuensi yang signifikan terhadap perilaku penyelenggara pendidikan (pemerintah, yayasan) dan komunitas madrasah (pimpinan, tenaga pendidik atauguru, karyawan dan peserta didik) untuk mencari pendekatan, strategi dan metode baru dalam pengembangan pendidikan Islam (madrasah).

Lantas bagaimana dengan Lembaga Pendidikan Islam. Rektor IAIN Palu yang baru ini  menjelaskan, lembaga pendidikan Islam merupakan wahana strategis dalam membina dan mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas bagi pembangunan bangsa. Aktivitas dan peran lembaga pendidikan Islam dalam pembangunan, telah menunjukan jati dirinya dalam berbagai aspek. Itu tampak pada kontribusi madrasah, sekolah agama, pesantren dan Perguruan Tinggi Agama  yang telah mampu menciptakan sumber daya manusia yang memiliki keimanan, ketakwaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Namun, tambahnya, peran yang strategis itu masih perlu terus ditingkatkan dalam kemampuan manajerialnya, agar efektifitas tujuannya dapat tercapai secara optimal,” katanya.

Sejak masa kolonial, secara sistematis lembaga pendidikan Islam ditekan dan disisihkan perannya dalam kehidupan masyarakat, kegiatan pengajaran lembaga pendidikan Islam lebih menyempit pada pengajaran ilmu agama saja. Namun demikian, lembaga pendidikan Islam (pesantren dan madrasah) tetap mampu melakukan aktivitas dan perannya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan terus memberikan pendidikan kepada sebagian besar masyarakat dan bangsa terutama yang tidak tersentuh oleh pendidikan kolonial yang memihak dan diskriminatif pada masa itu.

Lembaga pendidikan Islam yang tetap eksis sejak dulu hingga sekarang dengan berbagai sumber daya yang dimiliki, perlu terus dikerahkan dan dimanfaatkan untuk dapat menghadapi perubahan eksternal yang dipengaruhi oleh dinamika ekonomi, politik, sosial dan budaya.

“Maka sebagai pimpinan lembaga pendidikan Islam, perlu mendesain format pendidikan yang kompetitif dan inovatif untuk keperluan masa depan,” kata Prof. Dr. Saggaf Pettalongi.

Selamat Profesor, semoga amanah mengemban amanah sebagai Rektror IAIN Palu, 2017-2021. Barakallah… !!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here