Abdul Gafur Masud (foto: Dokumentasi Pribadi)

Lovely Nukila/DetikSulteng

Embun di rerumputan belum juga kering. Kicauan burung masih bersenandung indah di dahan-dahan pohon yang rindang. Matahari pun masih malu-malu menampakkan cahayanya. Di sebuah ruangan sempit, Hajjah Uwaidah meringis sakit. Ibu itu  berteriak-teriak sakit, namun bahagia karena akan melahirkan seorang khalifah di bumi.

Tak berselang lama, tepatnya 7 Desember 1987, terdengar tangisan bayi yang baru saja selesai menandatangani  kontrak kehidupan dengan Tuhannya. Ia lahir ke bumi dengan membawa sejuta nasib kehidupannya. Intuisi seorang ayah, sebagaimana keinginan semua orang tua, kelak anak ini harus menjadi berguna bagi keluarga, bangsa dan agamanya. Haji Mas’ud kemudian memproklamasikan Abdul Gafur sebagai nama bayi mungil itu.

Selalu terselip doa dalam setiap pemberian nama kepada seorang anak. Abdul Gafur mengandung banyak arti. Antara lain hamba yang pengampun, hamba yang membuka.  Abdul Gafur dididik agar menjadi seorang pekerja keras, hormat pada setiap orang, memahami arti persahabatan, cinta pada keluarga, tidak sombong dan selalu ingat pada Sang Penciptanya.

Waktu terus berganti, hari-hari terus dilewati. Abdul Gafur terus berproses menjemput takdirnya itu. Garis kehidupan yang sebelumnya telah tercatat pada kitab ketetapan di lauhilmahfudz telah diwujudkan Sang Pencipta, tetapi tentunya tanpa ujian. Kerasnya kehidupan tak membuat Abdul Gafur Mas’ud (AGM) patah arang. Tuhan telah memampukannya untuk dapat melewati kerasnya kehidupan itu.

Kini, ia telah memiliki banyak usaha, antara lain transporter darat dan laut, bahan bakar solar dan diesel, storage solar di Kutai Kertanegara, suplai solar industri di Kawasan Timur Indonesia, bisnis kapal untuk angkutan minyak dan kelapa sawit. Tetapi, semua titipan Yang Maha Kuasa itu, lantas tidak membuat AGM menjadi orang lain. Ia tetap menjadi dirinya sendiri seperti didikan Haji Mas’ud dan Hajjah Uwaida.

Atas kehendak dari Sang Pemilik Kerajaan, AGM kini telah memiliki kerajaan bisnis di berbagai tempat. Tak cukup sampai disitu, AGM bergabung dengan partai politik. Sekarang, dia dipercaya sebagau Ketua Partai Demokrat Kota Balikpapan. Ia dikenal sebagai ketua partai termuda.

Sejumlah sahabatnya mengakui sosok AGM sebagai sahabat dan juga panutan, saudara yang hebat, sosok anak muda yang sukses, AGM telah mendalilkan keberhasilan di bidang usaha, telah membuktikan bisa menyatukan pemuda di Kota Balikpapan, berani dan optimistis, ia anak  muda yang bertalenta. Masyarakat membutuhkan sosok seperti pemuda itu.

Testimoni kawan seperjuangannya di dunia usaha di Kota Balikpapan itu, paling tidak dapat menjadi penguatan bagi alumni Diklatnas Lemhannas HIMPI angkatan ke 4 untuk maju bertarung dalam perhelatan politik di Kabupaten Panajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Abdul Gafur Masud berpasangan dengan Hamdam.

Pasangan muda yang berencana menggelar deklarasi pencalonannya pada 9 Januari nanti itu, tidak menawarkan banyak hal yang muluk-muluk pada rakyat  di 19 Desa se Kabupaten Penajam Paser Utara. Ia akan fokus mengurusi infrastruktur di daerah itu.

“Rakyat mengeluhkan buruknya infrastruktur jalan di desa mereka. Minimnya infrastruktur jalan sangat menyulitkan warga melakukan aktivitas sehari- hari,” kata Abdul Gafur Masud, putra pasangan Haji Mas’ud dan Hajjah Uwaidah ini.

Menurut AGM, banyak jalan penghubung di beberapa desa seperti  Desa Gunung Intan, Desa Sepan, Desa Sumber Sari, Desa Kampung Baru, dan lain banyak desa lainnya yang kondisinya rusak parah. Itu berakibat terisolirnya wilayah-wilayah itu. Bahkan, pasokan logistik pun ikut terhambat lantaran kendaraan pengangkut logistik sulit melewati medan yang berat.

“Pembenahan infrastruktur akan menjadi program prioritas kami kelak di Panajam Paswer Utara,” kata pemuda kelahiran 7 Desember 1987 ini.

Menurut AGM, sarana infrastruktur jalan merupakan kebutuhan vital masyarakat yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Lantaran itu,  ia akan menghibahkan dirinya kepada masyarakat Panajam Paser Utara, untuk membenahi semua bengkalai itu, yang pada gilirannya bermuara pada kesejahteraan masyarakat setempat.

Tentunya bagi AGM, dia tidak akan bekerja sendiri. Sebagai seorang pengusaha muda, ia akan melakukan percepatan percepatan perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan itu, dengan cara menggandeng pihak swasta.

“Anggaran pemerintah itu sangat terbatas. Maka solusinya adalah harus mengajak pihak swasta bergandeng tangan membangun daerah,” ujarnya.

Akhirnya: Allahumma malikal mulki tu’til mulka man tasya’wa tanzi’ul mulka mim man tasya’ wa tu’izzu man tasya’wa tudzillu man tasya’ biyadikal khair innaka ‘ala kulli syai-in qadir….

(Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS  Ali ‘Imran: 26). ***

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here