Lovely Nukila

Palu/DetikSulteng.com

Realisasi investasi di Sulawesi Tengah pada semester pertama tahun 2017 ini, mencapai Rp14,7 triliun. Nilai itu berasal dari penanaman modal asing sebesar Rp13.02 triliun dan penanaman modal dalam negeri senilai Rp14,2 triliun.

“Realisasi itu dari pengolahan bukan besi yang selama ini kita kenal dengan industri Smelter, nilai realisasinya mencapai angka Rp9,5 triliun,” kata Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola.

Gubernur juga mengajak seluruh pihak, agar terus mendorong peningkatan realisasi investasi di Sulawesi Tengah, karena jika penanaman modal itu terealisasi, dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya kesejahteraan masyarakat akan dapat meningkat pula.

Direktur Utama PT Bangun Palu Sulawesi Tengah (BPST) — Badan Pengelola dan Pembangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, Mulhanan Tombolotutu mengatakan, nilai investasi itu akan lebih besar lagi dengan investasi di KEK Palu, yang peresmian operasionalnya telah dilakukan oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution.

Peresminan status operasional itu dilakukan, karena dalam hasil kajian dan evaluasi Dewan Nasional KEK, telah menempatkan KEK Palu berada di urutan kedua setelah KEK Mandalika. Tetapi hasil evaluasi akhir, KEK Palu yang lebih siap untuk operasional, karena meskipun belum diresmikan operasionalnya, tapi KEK Palu telah menerima investasi dalam kawasan tersebut.

Ada tujuh perusahaan yang sementara ini telah berinvestasi di KEK Palu, yakni PT STM Tunggal Jaya (pengembang dan pengelola) sebagai mitra strategis utama BPST dengan nilai investasi sebesar Rp7,2 triliun. Enam lainnya sedang membangun pabrik-pabriknya, yaitu PT Hong Thai Internasional dengan nilai investasi Rp13,742 miliar, PT Sofie Agro Industries dengan nilai investasi 1,380.000 Dolar Amerika Serikat, PT Triwihaso Pilar Sukses dengan nilai investasi sebesar Rp2,670 miliar, PT Wira Sukses Cemerlang Rp8,5 miliar, PT Panca Sentosa Investama Rp2,670 miliar, dan PT Asbuton Jaya Abadi Rp100 miliar.

Sedangkan calon investor yang segera menanamkan modalnya di KEK Palu adalah, PT PGRC (oil refinery & petrochemical industry) sebesar 9,878 miliar Euro atau sekitar Rp150 triliun, PT Agro Sulteng dengan nilai investasi Rp300 miliar. Selain itu, ada juga investor yang sudah siap berinvestasi, tapi belum terhitung nilai investasinya, yaitu PT Sulawesi Bunker Terminal, PT SAL Indonesia Raya, PT Palu Energy Indonesia, Tidfore Group Co.Ltd dan Korea Western Power Ltd sebesar Rp6,5 triliun.

Sebagai pengelola dan pengembang KEK Palu, KSO BPST & STM Group akan bekerjasama secara intensif dengan Pelabuhan Pantoloan (Pelindo IV) sebagai pelabuhan samudera yang potensi harus terus dikembangkan menjadi Hub atau pelabuhan utama primer Jalur Perdagangan Koridor Utara-Selatan.

Hingga sekarang, telah ditandatangani juga kerjasama operasional (KSO) antara PT BPST dan PT. STM Tunggal Jaya sebagai mitra strategis utama dan telah selesai melakukan pemutakhiran Master Plan KEK Palu & Pre-Feasibility Study System Penyediaan Air Bersih di Sungai Wombo oleh Korea Engineering Consultant Corporation (KECC), dan finalisasi Outline Business Case (OBC) KEK Palu & Financial & Market Study oleh konsultan kelas dunia Deloitte Infrastructure & Capital Projects.

Kim Sung Hyun, Presiden Direktur & Principal PT STM Tunggal Jaya menyatakan semangat dan optimismenya. Pihaknya sangat menghargai dukungan Pemerintah dan Bapak Menko Perekonomian.

“Melalui jaringan internasional, kami akan memperkenalkan KEK Palu ke berbagai belahan dunia dan calon-calon investor yang potensial melalui Market Consultation & Road Show yang terukur dan terarah. Saat ini mereka sudah mulai melakukan penjajakan serius untuk merencanakan berinvestasi di KEK Palu,” kata Kim Sung Hyun.

Dalam menjalankan tahapan pengadaaan infrastruktur KEK, pihak BPST sebagai Penanggung Proyek Kerjasasama (PJPK) melalui KSO dengan mitra strategis STM Tunggal Jaya membentuk Badan Penyiapan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) KEK Palu, Public Private Partnership Investment Center (KPIC). Proses penyiapan proyek dengan investment grade dicapai dengan menunjuk Penasehat Transaksi yaitu konsorsium konsultan internasional.

Menurut Kim Hyung Sun, peresmian KEK Palu ini sesungguhnya menjawab pesimisme publik, bahwa KEK Palu tidak akan operasional. Tetapi karena kerja keras dan optimisme berbagai pihak, akhirnya kawasan petro dolar itu diresmikan.

“Yang saya tau, banyak hambatan operasionalisasi KEK Palu,” kata Kim Hyung Sun yang biasa disapa Mr. Kim ini.

Bernardus Djonoputro, Country Head Deloitte Infrastructure and Capital Projects menambahkan, Palu di jalur ALKI-2 dan wilayah Indonesia Timur telah menjadi kawasan prioritas dan semakin menarik bagi investor maupun pemerintah Indonesia.

“Kami mendukung penuh untuk menyukseskan KEK Palu, Public Private Partnership Center atau pusat kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU) dalam menyiapkan proyek infrastruktur untuk investor internasional,” katanya.

Percepatan beberapa proyek di dalam KEK Palu akan dilakukan dengan skema KPBU untuk mendukung KEK Palu, antara lain Suplai air bersih/SPAM, Energi listrik, Pengembangan Pelabuhan Pantoloan dan Infrastruktur Dasar KEK. Badan Penyiapan KPBU Palu (Palu PPP Center) yang dibantu oleh konsorsium dipimpin konsultan Deloitte Indonesia, dengan anggota konsorsium Penida Capital, Hermawan Juniarto Law Firm, dan Korea Engineering Consultant Corp (KECC). ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here