Akbar Fawaid/DetikSulteng.com

Sejumlah alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang konsisten mewujudkan Insan Cita yang mencerminkan arah perjuangan Lafran Pane, pendiri HMI, baru-baru ini mendirikan satu perkumpulan baru yang diberi nama Usaha Memajukan Anakbangsa (UMA).

“Perkumpulan ini didirikan sebaga wujud rasa syukur kami kepada Pemerintahan Jokwi, yang telah menetapkan Profesor Lafran Pane sebagai Pahlawan Nasional,” kata Tigor, Ketua Umum Perkumpulan UMA.

Menurutnya, Lafran Pane memimpin sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam di Yo­gyakarta, mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam, sebagai bagian dari tanggung­jawab mahasiswa dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta di Jakarta, pada 17 Agustus 1945.

Kiprah perjuangan HMI menjaga dan mengawal kemerdekaan itu, diakui oleh Pangli­ma Besar TNI, Jenderal Sudirman, yang menyatakan, bahwa HMI bukan hanya Him­punan Mahasiswa Islam, melainkan juga Harapan Masyarakat Indonesia. Organisasi per­juangan kemahasiswaan ini bertujuan terciptanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

“Esensi tujuan itulah yang dikenal dengan kualifikasi Insan Cita,” kata Tigor.

Tigor menjelaskan, kualifikasi Insan Cita pada haki­katnya merupakan esensi kualifikasi insani manusia Indonesia yang kreatif, kom­peten di bidang pengabdiannya masing-masing, religius, dan berkomitmen un­tuk merawat Indonesia yang sesuai dengan cita-cita perjuangan kemerdekaan.

“Perkumpulan UMA yang berkomitmen merawat Indonesia dengan Cinta, berkomitmen menjadi perkumpulan yang berorientasi pada terciptanya anak bangsa Indonesia berkualitas sebagai modal insan berdayasaing global,” jelas Tigor, mantan aktivis HMI Cabang Bandung ini.

Sofhian Mile, ketua Badan Pengawas Perkumpulan UMA menya­takan, kualifikasi manusia Indonesia masa depan yang paralel dengan insan cita yang diinisiasi oleh Lafran Pane dan kawan-kawan, adalah manusia relijius, cendekia, se­hat, visioner, mandiri dan berdaya saing global di seluruh profesi dan aspek kehidupan.

Perkumpulan UMA, Sofhian Mile, mengimplementasikan gagasan  Lafran Pane melalui kerja-ker­ja kongkret. Mulai dari mengembangkan gagasan-gagasan alternatif masa depan, seperti pengembangan energi baru terbarukan, kajian-kajian kritis dan cendekia, serta studi ten­tang politik, kebijakan publik, ekonomi, sosial, dan budaya yang aktual bagi kemajuan bangsa ke depan.

Ferry Mursidan Baldan, salah satu pendiri Perkumpulan UMA menambahkan, salah satu spirit Lafran Pane yang diaktual­isasikan oleh Perkumpulan UMA, adalah prinsip independensi yang mengharmonisasi ruh keindonesiaan dan keislaman dalam satu tarikan nafas perjalanan panjang  merawat Indonesia dengan cinta, menuju masa depan Indonesia yang lebih baik dan lebih baik lagi.

“Dalam konteks itu, Perkumpulan UMA memainkan peran sebagai fasilitator dan katal­isator proses transformasi sosial masyarakat Indonesia yang berdaulat, berdaya saing, dan unggul dalam peradaban,” kata mantan Ketua Umum PB HMI itu.

Senada dengan itu, Afni Achmad, yang juga pendiri  Perkumpulan UMA menegaskan, fungsi perkumpulan ini sebagai sentra pengembangan potensi masyarakat kreatif, inovatif, dan visioner sebagai modal manusia penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

“Perkumpulan UMA akan memainkan peran sebagai mitra kritis pemerintah terdepan dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan berbasis kese­jahteraan dan keadilan sosial,”ungkap Afni, yang mantan anggota DPR RI itu.

Rasa syukur Perkumpulan UMA diwujudkan dalam bentuk santunan terhadap anak yatim piatu pada Kamis, 9 November 2017 di Warönk Uma – Lenteng Agung Jakar­ta Selatan. Perkumpulan ini juga menggelar Unity Golf Tournament 2017 di Klub Golf Bogor Raya, Ahad 12 November 2017 bertema kepahlawanan, sebagai bagian dari cara menggalang kebersamaan untuk melaksanakan program mandiri Perkumpukan UMA. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here