Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, menelusuri salah satu tokoh pembawa ajaran Agama Islam di Kota Palu. Salah satu tokoh yang ditelusur itu adalah Syekh Abdul Raqie, yang dikenal dengan nama Datokarama Tampak Rektor IAIN, Saggaf S. Pettalongi (batik ujung kiri) menjadi salah satu narausmber dalam seminar tersebut. (Foto: Humas IAIN)

Akbar Fawa’id/DetikSulteng.com

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, menelusuri salah satu tokoh pembawa ajaran Agama Islam di Kota Palu. Salah satu tokoh yang ditelusur  itu adalah  Syekh Abdul Raqie, yang dikenal dengan nama Datokarama oleh masyarakat di Sulawesi Tengah.  Rektor IAIN Palu, Saggaf S Pettalongi mendukung langkah para dosen di perguruan tinggi Islam negeri tersebut.

“Saya mendukung upaya yang dilakukan para dosen IAIN untuk meneliti tokoh pembawa ajaran Agama Islam itu,” ungkap Saggaf S Pettalongi, Kamis (4/1).

Saggaf Pettalongi menilai, penelitian itu jauh lebih baik, karena memandang dari dua aspek sosiologis dan teoritis untuk dalam penelusuran Datokarama. Namun, belum ada kesepakatan final dan tegas dari penelitian itu, terkait  istilah atau nama yaitu “dato” ataukah “datu”, atau “datuk”.

“Apakah istilah itu merupakan ungkapan atau penuturan asli masyarakat Suku  Kaili, atau penamaan itu ada kaitannya dengan masyarakat di Sumatera,” kata Prof Saggaf.

Menurut dia, itu perlu diperjelas dan dipertemukan oleh peneliti atau penelusur dalam karya ilmiah tersebut.

“Saya pikir ini perlu dan penting dipertemukan. Karena itu perlu membentuk tim. Kita godok bersama-sama,” sebutnya.

Ia menguraikan kelengkapan, kejelasan dan penegasan dalam hasil penelitian itu, dapat menjadi alasan oleh IAIN Palu untuk menjadikan nama Datokarama atau Abdul Raqie sebagai nama perguruan tinggi negeri tersebut, dengan alasan ilmiah.

“Bila ini digunakan untuk nama perguruan tinggi, maka harus permantap dan perjelas serta pertegas hasil penelusuran sebagai alasan ilmiah untuk digunakan,” jelasnya.

Saggaf menambahkan, penelusuran yang menjadi sebuah karya ilmiah, dapat berdampak terhadap peningkatan kualitas, utamanya pemahaman terhadap Datokarama. Itu juga akan menjadi literatur bagi kalangan mahasiswa di lingkungan IAIN Palu, dalam penyusunan dan penulisan karya ilmiah.

Pakar managemen pendidikan ini berharap,  hasil penelusuran dapat menjadi acuan untuk membangun kesamaan pandangan terhadap sosok Datokarama, yang saat ini masih beragam pandangan terhadap tokoh tersebut.

“Para dosen perlu melakukan dan  meningkatkan kajian, penelitian dan penelusuran ilmiah. Hal ini sebagai bentuk salah satu tugas akademisi,” ujarnya.

Penelusuran salah satu tokoh pembawa ajaran Agama Islam di Sulteng dilakukan oleh dosen Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Nurdin, Harsul Maddini, dosen Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan.

Keduanya menggelar seminar hasil penelitian tema menelusuri asal usul Datokarama, di Auditorium IAIN Palu, Kamis (4/1) pagi. Narasumber dalam seminar itu, Rektor IAIN Palu Saggaf S Pettalongi, Guru Besar Untad Palu Sulaiman Mamar, serta tiga  pembahas antara lain guru besar IAIN Palu, Zainal Abidin.

Dalam kesimpulan paparan hasil penelitian antara lain disebutkan Datokarama berasal dari Koto Tangah dan hidup pada zaman Syekh Burhanuddin, maka dapat dipastikan Datokarama belajar kepada Syekh Burhanuddin sebagai satu-satunya yang mengajarkan Islam di Koto Tangah pada zaman itu.

Kedatangan Datokarama di Lembah Palu disambut oleh Raja Besusu Pue Nggari, bukan oleh Raja Kabonena Pue Njidi. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here