CEO PT IMIP, Alexander Barus (kiri) dan Asdep Infrastruktur pertambangan dan energi Kemenko Maritim, Yudi Prabangkara di lokasi penyimpanan NPI PT IMIP. (Foto Dokumentasi PT IMIP)

DetikSulteng/Ajid

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman telah membentuk sebuah tim gabungan beranggotakan sejumlah kementerian, untuk membantu pengembangan kawasan industri yang dikelola PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Menurut Asisten Deputi Infrastruktur Pertambangan dan Energi Kemenko Maritim, Yudi Prabangkara, pembentukan tim tersebut bertujuan  mempercepat pengembangan pembangunan sektor industri di luar pulau Jawa khususnya di kawasan PT IMIP.

“Target utamanya untuk membantu menjadikan kawasan PT IMIP sebagai kawasan ekonomi khusus,” kata Yudi usai memimpin tim gabungan Kemenko Maritim mengunjungi kawasan PT IMIP di Kabupaten Morowali.

Dalam kunjungan lapangan tersebut, juga turut hadir Siti Ulfa Chanifah, Direktur Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kemneterian Kesehatan, Arus Gunawan, Direktur Wil. 1 PPI Kementerian Perindustrian, John Tambun, Kasubdit Infrastruktur Kemenko Maritim, Dadan Nurjaman, Direktur PTSDM, BPPT serta Veriady dan Lukman, keduanya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Menurut Yudi, dari hasil kunjungan lapangan dan pengamatan yang dilakukan, keberadaan kawasan industri PT IMIP memberi dampak positif bukan hanya kepada Kabupaten Morowali dan Provinsi Sulawesi Tengah, tetapi juga memberi efek luar biasa kepada provinsi tetangga seperti Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

Dampak paling nyata, kata Yudi, adalah pesatnya perkembangan bisnis jasa dan perdagangan yang dikelola masyarakat di sekitar kawasan PT IMIP. Ini merupakan bukti bahwa keberadaan kawasan industri telah menarik munculnya kegiatan-kegiatan ekonomi baru yang dikelola masyarakat.

“Fakta ini merupakan bukti keberadaan kawasan industri PT IMIP secara tidak langsung telah memicu tumbuhnya usaha-usaha ekonomi baru dari masyarakat yang tentunya secara otomatis juga menyerap tenaga kerja,” ujar Yudi.

Dari hasil kunjungan lapangan tersebut, kata Yudi, disimpulkan bahwa untuk mendukung percepatan kawasan PT IMIP menjadi Kawasan Ekonomi Terpadu, dibutuhkan sejumlah fasilitas tambahan. Salah satunya adalah fasilitas kesehatan.

Rumah sakit, kata Yudi, mutlak harus dibangun di sekitar kawasan industri PT IMIP. Pasalnya, fasilitas kesehatan yang dimiliki PT IMIP ditambah Puskesmas yang dikelola pemerintah daerah Morowali, diproyeksi dalam dua hingga tiga tahun ke depan tidak akan sanggup lagi memberikan pelayanan maksimal.

Khusus klinik yang dikelola PT IMIP, rata-rata per bulan mendapat kunjungan antara 3.000 hingga 4.000 pasien. Tak hanya karyawan, masyarakat sekitar kawasan juga ikut memanfaatkan fasilitas kesehatan tersebut.

“Ke depan, seiring dengan pengembangan kawasan industri, penambahan karyawan dan jumlah penduduk, kami perkirakan jumlah kunjungan pasien yang membutuhkan layanan kesehatan akan naik berlipat kali. Untuk itu, perlu dibangun rumah sakit di sekitar kawasan PT IMIP sebagai fasilitas penunjang. Hal ini akan kami ajukan ke pak Menko Maritim saat rapat di Jakarta nanti,” kata Yudi.

Selain fasilitas kesehatan, kata Yudi, pihaknya juga berencana  menjadikan Politeknik Logam Morowali yang dikelola Kementerian Perindustrian di Desa Labota, Kecamatan Bahodopi sebagai acuan pembelajaran khusus industri pengelolaan nikel.

Terkait hal itu, Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Mineral (PTSDM) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Dadan Nurjaman menyatakan bahwa pihaknya akan mengembangkan kampus Politeknik Logam Morowali sebagai Pusat Inovasi Logam Nasional dan sebagai tempat riset nasional mineral khusus nikel.

Yudi mengatakan, fasilitas penunjang lainnya yang perlu diperbaiki adalah oleh pemerintah pusat untuk mempercepat pengembangan kawasan PT IMIP sebagai Kawasan Ekonomi Khusus adalah sektor transportasi khususnya jalan dan jembatan.

“Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Balai Besar Jalan untuk segera merehabilitasi sejumlah jembatan dan jalan di jalur trans Sulawesi di wilayah ini,” kata Yudi.

Chief Eksekutif Officer PT IMIP, Alexander Barus, menyatakan menyambut positif hasil kunjungan lapangan dan kesimpulan dari tim Kemenko Maritim tersebut. PT IMIP katanya, siap bekerjasama dan mendukung penuh.

Bahkan, Alexander Barus menyatakan, terkait usulan dari tim gabungan Kemenko Maritim untuk pembangunan rumah sakit di sekitar kawasan PT IMIP, pihaknya siap untuk menyiapkan lahannya.

“Kami siapkan lahan hingga enam hektar untuk pembangunan rumah sakit oleh pemerintah pusat. Tapi jika dirasa kurang, kami siap menambahnya,” katanya.  ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here