Lovely Nukila Sangadji / DetikSulteng

Pengejaran kelompok garis keras di Poso yang menamakan diri mereka Mujahidin Indonesia Timur (MIT), terus dilakukan. Ribuan pasukan TNI dan Polri dikerahkan untuk mengejar kelompok pimpinan Santoso alias Abu Wardah itu.

Segala sudut wilayah di Poso, menjadi daerah operasi pasukan yang tergabung dalam Satuan Tugas Operasi Tinombala. Pengerahan pasukan ke hutan dan pegunungan di Poso dan Parigi Moutong dilakukan, pos-pos penjagaan dan pos penyekatan dibangun di beberapa titik. Grafik pemberitaan di media cetak dan elektronik pun meningkat tajam seiring dengan operasi ini.

Kolonel Infanteri Muhammad Saleh Mustafa dikirim ke Palu. Ia dipercaya kesatuannya untuk memimpin Komando Rayon Militer (Korem) 132/Tadulako. Pria kelahiran Ternate, 14 Maret 1969 itu menerima jabatan sebagai Komandan Korem (Danrem) 132/ Tadulako pada 13 April 2016 lalu itu, menggantikan Kolonel Infanteri Syaiful Anwar, yang gugur bersama 12 prajurit TNI lainnya di tengah Operasi Tinombala di Poso.

Prajurit TNI berlatar belakang Kopassus itu menerima jabatan dalam upacara serah terima jabatan  di ruang kehormatan Wirabuana, markas Kodam VII/Wirabuana, Jalan Urip Sumoharjo, Rabu (13/4) dipimpin Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayjen TNI Agus Surya Bakti yang dihadiri sejumlah perwira lainnya. Kini, Korem 132/Tadulako telah berada di bawah Kodam Merdeka yang berkedudukan di Manado, Sulawesi Utara.

Sejak saat itulah, Muhammad Saleh Mustafa yang lebih akrab dengan nama Saleh ini, dipercaya juga sebagai Wakil Komandan Operasi Tinombala. Dari situlah, lulusan Akademi Militer 1991 ini mendapat tugas berat dari pimpinannya di Markas Besar TNI, untuk dapat bersama-sama Polri menangkap para pengikut MIT yang sedang bergerilya di hutan dan pegunungan Poso.

Tugas berat itu kemudian membuat Saleh harus selalu berada di Poso, mendampingi prajuritnya yang sedang bertugas. Ia hadir bersama-sama prajurit di lapangan, karena memang ia bukan tipe pemimpin di belakang meja. Itu juga karena latar belakangnya sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus), bahkan pernah menjabat sebagai Komandan Group I Kopassus yang bermarkas di Serang, Banten.

Meski begitu, ia tak pernah berhenti belajar. Kuliah lanjut untuk mendapat gelar Magister pun ditempuhnya. Dia pun meneliti tentang Poso. Tesisnya tentang Poso, kemudian diterbitkan dalam sebuah buku, dan menjadi referensi bagi kesatuannya dan pemerintah mengenai penanganan terorisme. Buku itu diberi judul: Menuai Damai di Tanah Poso.

“Prajurit TNI harus punya pendidikan yang tinggi, harus cerdas, agar tidak ketinggalan zaman,” kata Muhammad Saleh Mustafa.

Dari buku Menuai Damai di Tanah Poso itu, Muhammad Saleh Mustafa ingin menceritakan kepada seluruh komponen bangsa dan dunia luar tentang situasi dan kondisi Poso yang sebenarnya. Menurutnya, realitas Poso secara keseluruhan sangatlah aman dan damai, tidaklah seperti yang digaungkan selama ini, bahwa Poso seolah-olah sangat mencekam.

Menuai Damai di Tanah Poso itu juga menceritakan potensi adat istiadat serta kearifan budaya lokal, yang dapat  menjadi suatu potensi wisata yang sangat indah. Kehidupan antarumat beragama yang sangat rukun sempat menjadi konflik,  telah terajut kembali menjadi suatu harmonisasi kehidupan masyarakat Poso.

Buku itu juga  menceritakan peran serta TNI, khususnya aparat kewilayahan membantu Pemerintah Daerah dalam proses pembangunan menuju masyarakat yang damai dan sejahtera.

Itulah yang  menjadi alasan Muhammad Saleh Mustafa mengangkat menulis buku Menuai Damai di Tanah Poso, dengan harapan dapat menarik minat para wisatawan dan investor untuk datang ke Poso, agar proses pembangunan di Kabupaten Poso dapat berjalan cepat.

“Ini bukan harapan TNI semata, tetapi juga menjadi harapan kita semua, agar Poso  menjadi lebih baik dan sejajar  dengan daerah-daerah lain dengan segala potensi yang dimilikinya,” katanya.

MENJADI JENDERAL

Kini, Muhammad Saleh Mustafa telah dipercaya dalam jabatan baru sebagai Wakil Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri Komando Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Pussenif Kodiklat TNI AD). Prajurit Kopassus yang murah senyum ini bertugas di badan itu sesuai Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/836/X/2017, tanggal 27 Oktober 2017.

Pussenif Kodiklat TNI AD, adalah sebuah badan yang berkedudukan langsung di bawah Komandan Komando Diklat TNI AD di bidang doktrin, pendidikan, dan latihan antarkecabangan, serta sebagai staf khusus Kasad di bidang pembinaan kesenjataan dan penelitian, serta pengembangan Infanteri.

Pussenif ini adalah kesatuan di TNI AD yang bertugas menyelenggarakan pembinaan kesenjataan Infanteri, pendidikan dan latihan, penelitian dan pengembangan Infanteri serta Lintas Udara di lingkungan Angkatan Darat, dalam rangka pembinaan kemampuan dan kekuatan satuan Infanteri. Pussenif, berkedudukan langsung di bawah Dankodiklat TNI AD yang berkedudukan di Bandung.

“Itu jabatan Brigadir Jenderal,” kata Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Polisi Rudy Sufahriadi dalam pesan di group jejaring sosial, Sulteng Damai.

Tak menunggu lama, pada 12 Desember 2017 ini, Muhammad Saleh Mustafa yang tadinya berpangkat Kolonel Infanteri, telah mendapat kenaikan pangkat menjadi Brigadir Jenderal TNI. Satu bintang telah disematkan di pundaknya.

Dalam berbagai kesempatan, Brigadir Jenderal TNI Muhammad Saleh Mustafa mengatakan, TNI adalah milik masyarakat, karena berasal dari masyarakat dan untuk masyarakat. Karena itu, TNI dan masyarakat harus selalu bergandengan dan tidak dapat dipisahkan.

“Kita selalu bersama masyarakat dan berjuang untuk masyarakat,” kata jenderal yang hobby makan popeda ini.

Menurutnya, sesuai dengan fungsinya untuk melindungi masyarakat dan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta menyesuaikan dengan dinamika perkembangan zaman, TNI harus terus mendorong adanya unity atau kebersamaan. Artinya, TNI harus berusaha sedekat mungkin dengan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama saling bahu membahu dalam membangun bangsa dan negara.

“TNI kini lebih terbuka dan berusaha semaksimal mungkin menghilangkan jarak dengan masyarakat,” jelasnya.

Selanjutnya adalah loyality yaitu kesetiaan. TNI, menurut Brigjen Muhammad Saleh Mustafa, selalu setia dan loyal terhadap kepentingan bangsa dan negara. Seluruh prajurit TNI siap mempertaruhkan nyawa untuk membela dan mempertahankan kedaulatan wilayah NKRI, dari Sabang sampai Merauke.

Berikutnya adalah capability yaitu kemampuan. Menurut Saleh, kemampuan prajurit TNI telah diakui dunia dan sejajar dengan pasukan-pasukan elit dari negara lain, baik dari segi kemampuan personil maupun teknologi persenjataan. Karena itu, katanya, prajurit TNI  dipercaya dan selalu dilibatkan dalam tugas-tugas kemanusiaan untuk menjaga perdamaian dunia di negara-negara yang tengah dilanda konflik, bersama pasukan elit dari negara-negara besar lainnya.

Kemudian semangat integrity yaitu kepribadian. Prajurit TNI  tidak hanya dipersiapkan untuk memiliki kemampuan teknis kemiliteran yang membanggakan, tapi juga dibekali dengan sikap mental dan kepribadian yang tangguh.

“Prajurit TNI harus konsisten dalam bertindak, berperilaku dan hidup sesuai dengan nilai, keyakinan dan prinsip kesatuannya. Inilah yang membuat prajurit TNI sangat efektif dan selalu berhasil melaksanakan tugas-tugas berat yang diberikan negara,” tegasnya.

Selamat bertugas Jenderal !

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here